Minggu, 28 September 2014

1st Story : Our Dream of Peace

Selamat datang di blog cerita-ku.
Ini adalah cerita bagian pertama dari 1st Story . . .
Selamat membaca, jangan lupa berdoa ya . . .
Tinggalkan komentar Anda agar saya bisa lebih baik . . .
.
.
.
Judul:
1st Story : Our Dream of Peace
.
Aku ingin membawa perdamaian ke dunia ini.”
Itulah mimpi besarku. Yang selalu aku pikirkan setiap kali aku ditanya tentang sebuah impian. Memang tidak biasa bagi seorang anak kecil yang tak berdaya sepertiku untuk mengatakannya. Aku memulai mimpi besar atau bisa disebut misi besar itu sejak duduk di MTs Kelas 3. Beberapa tulisan tangan tentang impian ini telah aku buat sejak saat itu, meski mereka sudah tak jelas ada di mana sekarang. Sejak aku bermimpi sampai sekarang ini, sudah banyak tawaan dan ejekan yang aku terima demi impian ini, tetapi di sinilah aku berdiri, di dunia ini untuk memperjuangkannya dengan sekuat tenaga.

“Perkenalkan, aku Muhammad Iqbal Imaduddin, aku akan punya banyak nama di sini, salah satunya, Shinnimadchi Damazuyakado. Aku adalah salah satu tokoh utama dan protagonis dari cerita ini. Aku adalah alumni SMA Negeri 2 Kediri, angkatan 13’ dari kelas X-3 (Septigtank), XI dan XII IPA I (Pera-One). Aku adalah anak kedua dari empat bersaudara yang lahir di bulan Oktober tahun 1994. Sekian perkenalannya.”

(Kediri, tahun 2013)
“Fa, aku tunggu di luar rumahmu.” SMS aku ke temanku, Ifa.
Beberapa detik kemudian, Ifa keluar dari rumahnya.
Aku menyapanya dengan sedikit senyuman, meski Ifa tak membalasnya dan memasang wajah dingin padaku.
“Ada apa Mad?” Tanya Ifa cepat.
“Nggak, lagi kangen aja. Sudah lama kita nggak bertemu.” Ucapku pelan.
“Owh, begitu. Aku masih . . .”
“Bolehkah aku percaya pada ucapan anak-anak soal dirimu, mereka bilang kau sudah mengalihkan hatimu pada cowok lain? Aku mencoba memperbaiki ini Fa.” Potongku cepat.
“Kenapa kau marah? Kita bahkan nggak pernah pacaran kan Mad.”
“Bukannya kau sendiri yang nggak mau terikat pacaran? Kau bilang mencintai nggak harus pacaran, dan aku sudah menerima itu karena kemauanmu Fa.” Ucapku pelan.
“Sudah Mad, aku jadikan kamu yang ke-20. Maaf, aku sudah tak mencintaimu lagi, kita akan berpisah selamanya.” Ucap Ifa tiba-tiba dengan keras.
“Apa? Beraninya kau katakan itu. Kau memintaku mencintaimu, dan aku sudah lakukan itu dan kau bilang kau juga mencintai aku. Ada apa denganmu Fa?” Sahutku tak kalah keras.
“Sudahlah, rasa itu sudah pergi, jangan kau paksakan perasaanku padamu.” Tiba-tiba Ifa melangkah pergi meninggalkanku. Aku menahan tangannya.
“Kau akan tahu, bahwa pengkhianatanmu ini adalah keberuntungan bagimu, syukurilah! Aku akan mengambilmu kembali, Fa. Lihat saja nanti.” Ucapku mencoba menenangkan diri.
“Terserah apa yang kau ucapkan, sekarang ini jangan buat aku punya rasa benci.”
“Oke Fa, aku juga tak ingin ada benci di sini. Kau yang sudah memilih jalan ini, dan seperti yang aku bilang padamu dulu, aku akan tetap menjagamu. Aku tak akan menganggap ini perpisahan yang buruk, inilah yang terbaik untuk kita sekarang.”
Ifa melepas tanganku dengan kasar dan masuk ke rumahnya.
Aku segera menyalakan mobilku dan pergi dari halaman rumah Ifa. Aku merasa sedikit kesal, tapi entah mengapa, lega rasanya berpisah dari Ifa sekarang, seolah tak ada ikatan yang membelenggu kami berdua lagi. Apa ini benar yang terbaik untuk kami?
Esok harinya jam 8 pagi, aku datang ke rumah gadis pengkhianat itu lagi. Bukan untuk minta maaf atau memperbaiki hubungan kami, hanya memberi surat perpisahan. Aku bertemu dengan Ifa, tapi tak mengucapkan satu kata pun padanya, hanya menaruh suratku di atas meja tamu dan langsung saja pergi.
“Dear Ifa, can you hear me? Are you near me? Forever, I can’t wait, time when we meet again. We’ll meet again when both our cars collide, what are you and I could say when that happen?.” Itulah bunyi suratku pada Ifa.
Tiba-tiba ada SMS ke HP-ku masuk dari Ifa. “Hahahaha, jadi ini surat terakhir darimu Mad. Sudah kubilang, jangan buat rasa benci padaku. Aku sudah muak dengan semua kata-katamu Mad, itu sampah. Aku akan melenyapkanmu dari bumi ini.”
“Apa kau marah denganku? Aku sama sekali tak membencimu Fa.” Balasku segera.
Jam menunjukkan pukul 1 siang. Aku keluar sejenak ke toko dekat rumah sekedar mencari minuman segar karena siang ini matahari bersinar begitu teriknya. Jalanan dekat rumah juga sepi tanpa seorangpun beraktifitas saat aku kembali ke rumah. Aku memutuskan untuk bersantai di kamar dengan menonton TV. Berita di TV akhir-akhir ini sering membahas tentang perang yang terjadi di timur tengah dan afrika. Kapan manusia bisa berhenti dari semua ini? Kapan dunia akan memulai era perdamaian tanpa ada perang?
Tiba-tiba aku mencium bau hangus dari luar kamar. Aku sangat terkejut melihat bagian depan rumahku sudah terbakar api oranye yang besar dan bagian dapur di belakangpun juga. Sesaat, aku melihat di halaman depan rumahku ada sebuah mobil hitam  lalu mobil itupun pergi. Siapa mereka? Apa mereka yang melakukan pembakaran ini?
Tak banyak berpikir, aku membuka pintu darurat di dekat kakiku dan meloloskan diri menuju taman. Pintu darurat ini dulu memang dibuat ayahku untuk keadaan seperti ini. Perhatianku tiba-tiba tertuju pada sesobek kertas berwarna kuning di halaman rumahku.
“Dead Lock street number 1009, Kediri. Bunuh Muhammad Iqbal Imaduddin, atas perintah dari Latifa A. P.” Aku membaca tulisan di kertas itu perlahan.
“Itu kan rumahku! Ternyata dia benar-benar marah padaku. Apa yang terjadi dengan Ifa. Bagaimana bisa dia mencoba membunuhku.” Benakku terus berucap.
Aku segera pergi dari rumah dengan perasaan bingung dan bimbang. Ini aku lakukan karena keselamatanku akan terancam bila aku tidak menghindari Ifa yang saat ini. Di perjalanan, meski dengan sedikit ragu, aku menyempatkan diriku untuk menelpon Ifa.
“Kau benar-benar marah padaku? Kalau ya, kejarlah aku Fa.” Ucapku seolah menantang Ifa.
“Ternyata kau belum mati Mad. Ck. Lihat saja, aku telah melihat kematianmu lewat mataku sendiri, tunggulah.” Ucap Ifa dingin.
“Aku tunggu  seranganmu, dendammu serta amarahmu. Aku tak mengerti apa yang telah merasukimu Fa. Tapi yang aku yakin, aku tak akan mati karenamu atau olehmu.”
Akhirnya aku tiba di rumah salah satu temanku, teman lamaku waktu SD dulu. Ternyata banyak juga teman-teman lamaku yang datang ke sana, padahal tidak ada acara ataupun janjian. Mungkin ini kebetulan yang langka. Kami banyak membicarakan tentang masa-masa kami dulu, sambil bercanda melepas masalah kami masing-masing.
1 bulan terakhir aku berpindah-pindah tempat tidur karena berbagai ancaman yang Ifa berikan padaku. Aku mencoba meredakan amarah Ifa dengan mengirim kado padanya saat dia berulangtahun, tapi ternyata sia-sia. Bahkan dia mengembalikan kadoku itu.
Malam ini aku memutuskan tidur di rumah Deco karena Ifa belum mengetahui rumah Deco ini. Meski begitu, aku masih khawatir dengan pembakaran rumahku sebulan yang lalu.
“Krriingg. Krriinnggg.” Tiba-tiba ada telepon masuk ke HP-ku.
“Mad. Gimana kabarmu? Aku dengar dari Deco kamu dalam bahaya?” Tanya Sela.
“Kamu tahu? Ehm, nggak masalah kok Sel. Ini sudah jalanku.”
“Kamu nggak ingin move on ya? Aku dengar, barusan Ifa mengembalikan kadomu.”
Ya Sel, entah kenapa, melihat kejadian-kejadian ini, aku jadi semakin yakin kalau harapanku pada Ifa dulu akan terkabul semuanya. Hal seperti ini nggak merubah sedikitpun perasaanku kok.” Jawabku sambil tersenyum kecil.
“Ya sudah. Semangat ya. See ya. Assalamu`alaikum.” Sela menutup pembicaraan.
Aku menaruh HP sampingku dan mencoba tidur. Deco sudah tertidur duluan tadi sesaat sebelum Sela menelponku. Untung aja dia nggak tahu kalau Sela yang menelpon.

Mengenai Ifa. Dalam cerita ini, Ifa, Latifa, Yuki ataupun Yukiko, adalah orang yang sama. Dia adalah temanku, yang dulu dekat denganku di masa-masa SMA. Nama lengkapnya adalah Latifa Amalia Putri atau Yukiko Eri Makannashi. Dia juga merupakan tokoh protagonist di cerita ini. Gadis berzodiak Virgo ini sedikit lebih tua daripada aku. Dia baik kok orangnya, dan memang agak judes sih.
.
.
.
( Bersambung ke bagian dua . . . Insya Allah )